Ilusi “Kembali ke Qur’an dan Hadits”: Antara Kemurnian dan Kekacauan Berpikir

 Dalam beberapa waktu terakhir, muncul satu gelombang pemikiran yang mengklaim diri sebagai gerakan pemurnian: umat Islam, katanya, tidak perlu bermadzhab. Alasannya terdengar sederhana—ulama bisa salah, maka kebenaran harus diambil langsung dari Al-Qur’an dan Hadits.

Sekilas, gagasan ini tampak heroik. Siapa yang tidak ingin kembali kepada sumber asli agama? Namun, di balik slogan yang terdengar suci itu, tersembunyi satu problem besar: ilusi epistemologis.

Pertanyaan mendasarnya sederhana, tapi sering dihindari:

"Apakah mungkin memahami Al-Qur’an dan Hadits tanpa peran ulama?"

Jika dijawab jujur, maka kita akan sampai pada satu kenyataan yang tidak nyaman—bahwa klaim “langsung ke Qur’an dan Hadits” tidak pernah benar-benar langsung. Ia selalu melalui perantara, hanya saja perantara itu tidak diakui.

Hadits yang hari ini dibaca sebagai “sabda Nabi” bukanlah teks yang turun begitu saja dalam bentuk siap pakai. Ia melewati proses panjang: seleksi sanad, kritik perawi, verifikasi matan, hingga klasifikasi derajatnya. Tanpa itu semua, hadits hanyalah kumpulan riwayat tanpa kepastian.

Lalu siapa yang membangun semua itu?

Jawabannya suda pasti Ulama.

Ironisnya, mereka yang menolak madzhab justru tetap berdiri di atas fondasi yang dibangun oleh ulama—tanpa menyadarinya, atau mungkin tanpa mau mengakuinya.

Di titik ini, persoalannya bukan lagi soal benar atau salah, tetapi soal konsistensi berpikir.

Menolak madzhab karena ulama bisa salah terdengar rasional. Tapi apakah itu berarti setiap individu mampu melakukan ijtihad sendiri? Apakah setiap orang memiliki kapasitas memahami bahasa Arab klasik, ilmu ushul fiqh, metodologi istinbath, hingga kritik hadits?

Jika jawabannya tidak, maka penolakan terhadap madzhab justru melahirkan ketergantungan yang lebih berbahaya: ketergantungan tanpa standar.

Tanpa madzhab, setiap orang berpotensi menjadi “ulama bagi dirinya sendiri”. Dan ketika itu terjadi, agama tidak lagi menjadi sistem yang terjaga, melainkan berubah menjadi opini yang berserakan.

Di sinilah letak kekeliruan terbesar dari slogan “tidak perlu bermadzhab”. Ia mengira bahwa dengan menolak otoritas ulama, seseorang sedang menuju kemurnian. Padahal yang terjadi justru sebaliknya—ia sedang membuka pintu bagi subjektivitas yang tidak terkendali.

Madzhab bukanlah bentuk pengkultusan terhadap ulama. Ia adalah metode berpikir—hasil dari disiplin ilmiah yang dibangun selama berabad-abad untuk memastikan bahwa hukum agama tidak lahir dari sembarang pemahaman.

Mengikuti madzhab bukan berarti menganggap ulama selalu benar. Tapi itu berarti mengakui bahwa kebenaran membutuhkan proses, dan proses itu tidak bisa dilewati begitu saja dengan semangat yang membara namun metodologi yang kosong.

Akhirnya, kita sampai pada satu kesimpulan yang mungkin terasa pahit bagi sebagian orang:

Menolak madzhab atas nama kemurnian sering kali bukan tanda kedalaman ilmu, tetapi justru tanda ketidaksadaran terhadap kompleksitas agama itu sendiri.

Dan jika ulama benar-benar ditinggalkan, maka yang tersisa bukanlah Islam yang murni melainkan Islam yang ditafsirkan sesuai kemampuan masing-masing, tanpa batas, tanpa standar, dan tanpa arah.

Sebuah kebebasan yang, pada akhirnya, lebih dekat kepada kekacauan daripada kebenaran.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebenaran, Ego, dan Ilusi “Golongan Paling Selamat”

IMAN ATAU IMPULS? Ketika Vonis Keagamaan Lebih Cepat dari Proses Belajar