Kebenaran, Ego, dan Ilusi “Golongan Paling Selamat”
Di ruang-ruang diskusi keagamaan, kita sering mendengar kalimat yang terdengar tegas sekaligus menenangkan: “kelompok kami yang paling benar.” Kalimat ini terasa kokoh, seolah berdiri di atas dalil, tradisi, dan otoritas panjang. Namun, pernahkah kita bertanya dengan jujur—apakah keyakinan itu benar-benar lahir dari pencarian kebenaran, atau justru dari kebutuhan manusia untuk merasa berada di posisi yang aman dan unggul?
Dalam ilmu kalam, perdebatan tentang siapa yang “paling benar” bukan hal baru. Sejarah mencatat bagaimana perbedaan pemahaman melahirkan banyak aliran, masing-masing dengan argumen dan dalilnya. Di sisi lain, hadits Nabi tentang umat yang terpecah menjadi 73 golongan sering dijadikan legitimasi bahwa hanya satu yang selamat. Sayangnya, hadits ini kerap dipahami secara simplistis: seolah-olah keselamatan bisa diklaim sejak dini oleh satu kelompok tertentu.
Padahal, ada hadits lain yang tidak kalah kuat: bahwa semua umat Nabi berpotensi masuk surga, kecuali mereka yang “enggan”—yakni yang menolak ketaatan. Di titik ini, kita dihadapkan pada sebuah refleksi yang lebih dalam: keselamatan bukanlah label kelompok, melainkan proses eksistensial antara manusia dan Tuhannya.
Pemikir sufi seperti Ibnu Arabi bahkan melangkah lebih jauh. Dalam pandangannya, manusia sering terjebak pada bentuk lahiriah kebenaran, sementara melupakan hakikatnya. Yang diperebutkan bukan lagi kedekatan dengan Tuhan, tetapi klaim atas kebenaran itu sendiri. Kebenaran berubah menjadi identitas, dan identitas berubah menjadi alat pembeda—siapa “kami” dan siapa “mereka”.
Di sinilah problemnya menjadi serius. Ketika kebenaran dijadikan alat identitas, ia tidak lagi murni sebagai hasil pencarian, melainkan sebagai warisan yang dijaga. Dan sesuatu yang diwarisi tanpa diuji sering kali dipertahankan bukan karena ia benar, tetapi karena ia sudah menjadi bagian dari diri.
Maka tidak mengherankan jika kita menemukan ironi: semakin keras seseorang mengklaim dirinya paling benar, semakin kecil ruang yang ia berikan untuk kemungkinan bahwa dirinya bisa salah. Kebenaran yang seharusnya membimbing menuju kerendahan hati justru berubah menjadi justifikasi untuk merasa lebih tinggi.
Pertanyaannya kemudian menjadi sederhana, namun mengganggu: apakah kita mengikuti kebenaran karena dalilnya memang kuat, atau karena kebetulan kebenaran itu tidak pernah keluar dari lingkungan kita sendiri?
Di era digital hari ini, fenomena ini semakin menguat. Algoritma mempersempit ruang pandang kita, mempertemukan kita hanya dengan mereka yang sependapat. Akibatnya, kita tidak hanya yakin bahwa kita benar—kita juga semakin sulit membayangkan bahwa ada kemungkinan lain di luar sana.
Padahal, jika kita kembali pada semangat dasar ajaran, kebenaran seharusnya melahirkan kerendahan hati, bukan superioritas. Keyakinan seharusnya menumbuhkan ketenangan, bukan kecemasan yang membuat kita sibuk menegaskan bahwa orang lain salah.
Mungkin, yang lebih penting bukanlah memastikan kita berada di “golongan yang selamat”, tetapi memastikan bahwa kita tidak menjadikan agama sebagai alat untuk meninggikan diri. Karena bisa jadi, yang menjauhkan manusia dari kebenaran bukanlah kesalahan dalam berpikir, tetapi kesombongan dalam merasa sudah benar.
Pada akhirnya, kita semua sedang berjalan—bukan sudah sampai. Dan dalam perjalanan itu, barangkali yang paling berbahaya bukanlah tidak menemukan kebenaran, tetapi merasa telah memilikinya sepenuhnya.
Penulis: Authar W.A.A.M
Komentar
Posting Komentar