Kontroversi Kitab Waṣiyyatul Muṣṭafā: Antara Popularitas, Nilai Moral, dan Kritik Ilmu Hadis


Di kalangan pesantren dan majelis taklim di Indonesia, nama Waṣiyyatul Muṣṭafā li 'Alī Karramallāhu Wajhah tentu sudah tidak asing lagi. Kitab yang dinisbatkan kepada Imam Abdul Wahhab asy-Sya'rani ini berisi kumpulan nasihat yang disandarkan kepada Rasulullah ﷺ untuk Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. Kandungannya sarat dengan pesan-pesan akhlak, kezuhudan, adab, serta motivasi untuk mendekatkan diri kepada Allah.


Tidak sedikit ulama yang mengajarkannya karena kandungan moralnya yang menyentuh hati. Namun, di balik popularitas tersebut, kitab ini menyimpan perdebatan panjang dalam disiplin ilmu hadis.


Kontroversi Bukan Terletak pada Isi Nasihatnya


Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap bahwa para ulama mengkritik kitab ini karena isi nasihatnya. Padahal, mayoritas kritik justru tertuju pada validitas riwayat yang dinisbatkan kepada Rasulullah ﷺ, bukan pada kandungan moralnya.


Banyak nasihat dalam kitab tersebut selaras dengan ajaran Al-Qur'an dan hadis-hadis sahih. Akan tetapi, dalam ilmu hadis, kesesuaian makna tidak otomatis membuktikan bahwa suatu ucapan benar-benar berasal dari Nabi Muhammad ﷺ. Setiap riwayat tetap harus diteliti sanad dan matannya sebelum dapat dinisbatkan kepada beliau.


Kritik Para Muhaddits


Sejumlah ulama hadis memberikan perhatian serius terhadap kitab ini.


Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah termasuk di antara ulama yang mengkritik keras penyebaran riwayat-riwayat yang tidak terbukti berasal dari Rasulullah ﷺ. Beliau memperingatkan agar kaum muslimin tidak mudah menyandarkan suatu perkataan kepada Nabi tanpa penelitian yang memadai. Kritik beliau terhadap Waṣiyyatul Muṣṭafā bahkan sangat tegas karena menurutnya sebagian riwayat yang beredar merupakan kedustaan atas nama Rasulullah ﷺ.


Demikian pula, para ulama klasik seperti Imam al-'Ajluni, Imam as-Saghani, dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi telah menjelaskan bahwa banyak riwayat yang berbentuk "wasiat Nabi kepada Ali" ternyata berstatus lemah bahkan sebagian dinilai palsu. Riwayat-riwayat semacam ini sejak dahulu telah menjadi perhatian para ahli hadis.


Di Indonesia, KH. Hasyim Asy'ari juga dikenal sangat menekankan pentingnya ketelitian dalam meriwayatkan hadis. Dalam berbagai karya beliau tentang adab keilmuan dan hadis, beliau mengingatkan bahwa setiap hadis harus dipastikan keabsahannya sebelum disandarkan kepada Rasulullah ﷺ. Prinsip ini sejalan dengan metodologi para muhaddits dalam mengkritisi kitab-kitab yang berisi hadis tanpa penjelasan sanad.


Mengapa Kitab Ini Tetap Populer?


Pertanyaan menariknya, jika kitab ini mendapat banyak kritik, mengapa ia tetap menjadi bahan kajian di berbagai pesantren?


Jawabannya tidak sederhana.


Pertama, isi kitabnya memang kaya akan nilai-nilai pendidikan akhlak yang mudah dipahami masyarakat.


Kedua, kitab ini telah diajarkan secara turun-temurun sehingga memperoleh legitimasi tradisi di banyak lembaga pendidikan Islam.


Ketiga, faktor pencetakan dan penyebaran yang sangat luas menjadikan kitab ini mudah dijumpai dibandingkan banyak kitab hadis lainnya.


Penelitian akademik terbaru bahkan menunjukkan bahwa popularitas Waṣiyyatul Muṣṭafā dipengaruhi oleh otoritas para kiai, tradisi pesantren, serta reproduksi penerbitan yang terus berlangsung, meskipun pada saat yang sama kitab tersebut menuai kritik karena banyaknya hadis yang dipersoalkan dan ketidakjelasan atribusi penulisannya.


Sikap Ilmiah yang Perlu Dikedepankan


Perdebatan mengenai Waṣiyyatul Muṣṭafā hendaknya tidak melahirkan dua sikap yang berlebihan.


Di satu sisi, tidak tepat menerima seluruh isi kitab sebagai hadis Nabi tanpa penelitian.


Di sisi lain, juga tidak tepat menolak seluruh kandungan kitab hanya karena terdapat riwayat-riwayat yang bermasalah.


Pendekatan yang lebih ilmiah adalah meneliti setiap hadis secara individual melalui proses takhrij, mengkaji sanad, menilai kualitas para perawi, serta membandingkannya dengan penilaian para ulama hadis terdahulu maupun kontemporer.


Dengan cara demikian, nasihat yang benar tetap dapat diambil manfaatnya, sementara riwayat yang tidak sahih tidak disandarkan kepada Rasulullah ﷺ.


Penutup


Kontroversi Waṣiyyatul Muṣṭafā sesungguhnya memberikan pelajaran penting tentang bagaimana umat Islam menjaga kemurnian sunnah Nabi ﷺ. Kecintaan kepada Rasulullah tidak cukup diwujudkan dengan membaca nasihat-nasihat yang indah, tetapi juga dengan memastikan bahwa setiap perkataan yang dinisbatkan kepada beliau benar-benar memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.


Inilah semangat yang diwariskan para muhaddits sepanjang sejarah: menjaga kemuliaan sabda Nabi ﷺ dari penyandaran yang tidak benar, sembari tetap mengambil hikmah dari setiap nasihat yang selaras dengan Al-Qur'an dan ajaran Islam.

Komentar